Gladhen Prajurit Kraton

Gladen Prajurit KratonPasca gempa bumi 27 Mei lalu, semangat recovery tidak hanya menyangkut rumah dan infrastruktur, tetapi juga masalah pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah daerah, pelaku wisata, pemilik maupun pengelola obyek wisata, fasilitator ataupun pengusaha jasa wisata dan masyarakat pada umumnya selayaknya bahu-membahu bekerja keras memulihkan iklim (dulu disebut Sapta Pesona) pariwisata. Perlunya bahu-membahu dalam upaya memulihkan sektor pariwisata pasca gempa bumi itu dilempar oleh Drs Gatot Marsono MM, pengamat budaya yang sehari-hari bekerja sebagai Kepala Humas Sekretariat DPRD Propinsi DIY.

Gatot mengamati, DIY yang memiliki beragam jenis obyek dan asset wisata perlu mendapat perhatian dan prioritas. Salah satu potensi dan sekaligus obyek kunjungan wisata adalah Keraton Kasultanan Mataram Yogyakarta dengan segala isi serta keunikannya. Selama ini pelayanan kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Keraton Yogyakarta sudah dilayani para pemandu wisata dan abdi dhalem keraton di Tepas Kepariwisataan. Keunikan lain seperti prajurit Keraton Yogyakarta yang berjumlah 10 Bregodo atau Brigade muncul ketika menjelang dan saat upacara Grebeg Mulud, Syawal dan Besar.

Alun-alun utara yang luas itu, ketika tidak digunakan untuk acara ritual keraton, cuma digunakan untuk taman parkir dan atau untuk olahraga para siswa serta dimanfaatkan oleh para pedagang kaki lima (PKL). “Prajurit Keraton Yogyakarta yang berjumlah 528 orang dan setiap Bregodo mempunyai seragam berbeda-beda, termasuk senjatanya, tentu menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan yang berkunjung ke keraton.” “Apabila latihan atau gladhen prajurit keraton itu dilaksanakan pada sore hari, maka obyek wisata baru ini akan mampu mendongkrak length of stay atau lama tinggal wisatawan lebih panjang lagi,” tambah Gatot Marsono.

Ke-10 bregodo atau brigade prajurit keraton tersebut terdiri dari Prajurit Nyutra, Wirobraja (Lombok Abang), Patangpuluh, Nugis, Dhaeng, Ketanggung, Surokarsa, Jagakarya, Prawiratama dan Mantrijero. Jangankan wisatawan, warga Yogyakarta sendiri banyak yang belum pernah menyaksikan tampilnya prajurit keraton. Hal ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi, kalau wisatawan dapat “pinjam sementara” pakaian prajurit dan kemudian difoto, bukankah dapat menjadi “entry point” tambahan pemasukan seperti yang dilakukan di Kasultanan Gowa Sulsel, Bali dan lain-lain.

Sekarang ini, kompleks Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta sudah memiliki galeri yang bisa menjadi penambah daya tarik. Akan menjadi makin mengundang wisatawan jika keraton mampu menggelar “gladhen” prajurit secara periodik, misalnya setiap Sabtu dan Minggu atau ketika ada hari libur bersama (cuti bersama).

Selayaknya kios-kios yang sekarang menempati di sekeliling jalan lingkar alun-alun utara dirapikan tampilannya. Termasuk yang tak kalah penting adalah dilengkapi dengan fasilitas MCK yang representative. Untuk memenuhi hal itu, perlu dibangun tandon air (water torn). Khusus lokasi untuk gladhen atau latihan prajurit, baik baris berbaris dengan iringan instrument khas masing-masing bregodo maupun menembak dengan senapan kuno LE, seyogyanya menggunakan tempat di sekitar Pagelaran keraton. Di Pagelaran yang hawanya sejuk, sangat pas dipakai untuk berfoto dengan uniform prajurit keraton.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah para pengunjung, baik warga Yogya maupun wisatawan domestik dan mancanegara perlu dipungut karcis? Sebaiknya tidak usah. Sebab, pentas gladhen ini merupakan satu kesatuan dengan obyek yang ada di keraton Yogyakarta. Jika gagasan ini dirasa perlu dan layak, tentu pakaian para prajurit perlu dicek apakah sudah lungset ataiu masih bagus. (ARM)

3 Komentar

  1. vinzha said,

    6 Oktober, 2007 pada 8:21 am

    meski telah ditempa musibah beberapa waktu lalu, masyarakat yogya gak pernah ada yang namanya putus asa ……………. SALUT

  2. Kupiya said,

    30 Desember, 2008 pada 12:54 pm

    Yth. Dinas Pariwisata Jogja

    Kalau di negri Belanda, wisatwan bisa foto dengan pakaian khas sinyo Belanda. Akan sangat menarik jika wisatawan dapat berfoto dengan mengenakan busana prajurit lombok abang misalnya.

    Terima kasih

  3. Aditya said,

    7 Juli, 2009 pada 10:15 pm

    Wis Pokoke siiplah….neng kurang pepak fotone….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: